Dr. KH. Abdul Muhaimin Zen, MA, Sang Penjaga Sanad Al-Qur'an Nusantara



Di tengah hiruk-pikuk Jakarta akhir 1970-an, seorang pemuda asal Jombang bernama Abdul Muhaimin Zen menyaksikan kerinduan yang mengharu-biru di kalangan mahasiswa penghafal Al-Qur'an. Mereka, para perantau dari Jawa Timur yang menuntut ilmu di PTIQ dan IIQ, merindukan suasana kekeluargaan sekaligus wadah untuk menjaga hafalan Al-Qur'an. Dari situlah, dengan kesabaran seorang guru dan kehangatan seorang sahabat, Muhaimin Zen mulai merintis perkumpulan mudarasah - berkumpul untuk saling menyimak hafalan Al-Qur'an.

Perkumpulan sederhana itu awalnya tak lebih dari pertemuan-pertemuan akrab di sela kesibukan akademik. Muhaimin Zen hadir sebagai pendorong, pendamping, sekaligus penggerak yang tak kenal lelah. Perlahan-lahan, kegiatan yang semula hanya diikuti segelintir mahasiswa itu berkembang pesat. Mahasiswi IIQ pun turut bergabung, menjadikan komunitas ini semakin hidup dengan semangat "senasib seperjuangan".

Titik baliknya terjadi pada tahun 1980, dalam suasana hangat Halal bi Halal di kediaman Ibu Nyai Hj. Sholihah Wahid Hasyim. Di situlah, setelah melalui musyawarah yang dipimpin Cak Abdul Jalil, perkumpulan mudarasah itu akhirnya resmi menjadi organisasi dengan nama Ikatan Keluarga Mahasiswa Jawa Timur (IKMJ) - cikal bakal Jam'iyyah Mudarasah Al-Qur'an (JMQ) yang kita kenal sekarang.

Perjalanan hidup Muhaimin Zen sendiri ibarat kitab yang ditulis dengan tinta kesabaran dan ketekunan. Dari tanah Jombang yang terkenal sebagai kawah candradimuka para santri, ia merantau menuntut ilmu dari IAIN Sunan Ampel Surabaya hingga menyelesaikan S2 dan S3 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tak heran jika kemudian ia menjadi salah satu guru tahfizh angkatan awal di PTIQ Jakarta dan dosen senior di IIQ Jakarta - posisi yang diembannya hingga kini.

Namun, pengabdiannya tidak berhenti di ruang kuliah. Kiprahnya di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama RI membuktikan kepakarannya dalam ilmu qira'at diakui di tingkat nasional. Begitu pula perannya sebagai hakim senior dalam berbagai Musabaqah Tilawatil Qur'an, hingga yang terbaru sebagai Anggota Dewan Pengawas STQH Nasional 2025 di Kendari.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, namanya pun harum. Ia pernah memegang tampuk Ketua Umum PP Jam'iyyatul Qurra' wal Huffazh (JQH NU), organisasi yang menghimpun para pembaca dan penghafal Al-Qur'an. Sementara di kampung halamannya di Jombang, ia adalah salah satu pendiri Madrasatul Qur'an Tebuireng yang pernah menjabat sebagai Mudir 1.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, Kiai Muhaimin Zen tetap menjadi sumber mata air yang tak pernah kering. Dari balik kacamata yang selalu teduh, ia terus membimbing, mengajar, dan menginspirasi generasi demi generasi penghafal Al-Qur'an. Julukan "Syaikhul Huffazh Nusantara" yang disematkan padanya bukan sekadar gelar, melainkan pengakuan tulus atas dedikasinya yang tak kenal henti untuk Al-Qur'an dan umat.

Dalam setiap ceramahnya, dalam setiap bimbingannya kepada para hafizh muda, dalam setiap penilaiannya di kompetisi Al-Qur'an, ia tetap menjadi sosok yang sama: seorang guru yang rendah hati, seorang ulama yang mendalam, dan sahabat Al-Qur'an sejati yang telah mengabdikan hidupnya untuk menjaga kemurnian Kitab Suci di bumi Nusantara.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items