KH. Hamid Baidlowi: Sang Penopang Setia JMQ dan Penjaga Hafalan Al-Qur'an



Di balik dinamika perjalanan Jam'iyyah Mudarasah Al-Qur'an (JMQ) Keluarga Mahasiswa Jawa Timur di Jakarta, terdapat sosok yang menjadi penopang hidup dan penyemangat spiritual mereka: KH. Hamid Baidlowi. Lebih dari sekadar nama yang tercatat sebagai salah satu pendiri, Kiai Hamid adalah jiwa dan "orang tua" yang dengan penuh ketulusan mengasuh benih-benih penghafal Al-Qur'an di perantauan.

Sebagai salah satu founder, komitmen Kiai Hamid tidak berhenti pada deklarasi organisasi di kediaman Nyai Sholichah, mertuanya. Ia menjadi pilar penopang kebutuhan kegiatan JMQ. Dengan tangan terbuka dan hati yang lapang, beliau memastikan bahwa kegiatan mudarasah dan pembinaan para mahasiswa penghafal Al-Qur'an ini dapat berjalan dengan lancar. Dukungannya tidak hanya materiil, tetapi lebih sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan generasi muda ini tetap teguh memegang Al-Qur'an di tengah kerasnya kehidupan ibu kota.

Kediamannya menjadi tujuan silaturahmi yang penuh berkah bagi para mahasiswa, khususnya dari Institut PTIQ. Setiap kali mereka berkunjung, Kiai Hamid memiliki tradisi yang khas dan penuh makna. Beliau tidak hanya menyambut dengan senyum dan obrolan ringan, melainkan langsung meminta tamu mudanya itu untuk membacakan Al-Qur'an bil ghaib (dari hafalan). Bagi Kiai Hamid, silaturahmi yang sejati adalah yang disertai dengan menyebut nama Allah dan ayat-ayat-Nya. Momen ini sekaligus menjadi cara halusnya untuk menguji, memantau, dan menjaga kualitas hafalan para calon ulama dan qari' ini.

Ketekunannya dalam menjaga kemurnian Al-Qur'an juga terlihat dalam forum yang lebih besar. Dalam acara-acara Khatmil Qur'an bil Ghaib yang digelar di kediaman kakak iparnya, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Kiai Hamid sering hadir. Duduk dengan tenang dan penuh khidmat, beliau menyimak seluruh bacaan yang dilantunkan oleh para mahasiswa. Yang membuatnya mencolok adalah, beliau menyimak tanpa memegang mushaf Al-Qur'an sedikit pun.

Dari balik ketenangannya itu, sepasang matanya yang tajam dan telinganya yang peka mengawasi setiap lafaz yang keluar. Jika ada mahasiswa yang membaca dengan lancar dan tepat, rasa kagum dan kepuasan terpancar dari wajahnya. Namun, jika terdapat bacaan yang tersendat, salah, atau tidak lancar, dengan halus Kiai Hamid menggeleng-gelengkan kepalanya. Gelengan kepala itu bukanlah bentuk kemarahan, melainkan sebuah isyarat kebijaksanaan seorang guru yang prihatin, sebuah pesan tanpa suara yang berbunyi, "Nak, hafalanmu perlu diulang lagi."

Peran Strategis di Balik Layar

Di balik kesibukannya membina JMQ, Kiai Hamid adalah seorang suami yang menjadi partner diskusi dan penasihat utama bagi istrinya, Ny. Hj. Aisyah Hamid Baidlowi. Seperti tergambar dalam biografi istrinya, Kiai Hamid adalah sosok yang sangat mendukung perjuangan dan aktivitas istrinya, baik di organisasi Muslimat NU, Al-Hidayah, maupun di kancah politik. Ia adalah tempat Aisyah berbagi dan meminta pertimbangan, termasuk ketika ia dilematis dengan tawaran untuk masuk ke dunia politik praktis.

Kediaman mereka pun menjadi semacam "rumah aktivis", di mana Kiai Hamid pernah satu kamar dengan KH. Wahab Hasbullah, menggambarkan kedekatan dan keterlibatannya dalam lingkar dalam NU. Posisi strategisnya inilah yang menjadikannya target lobi bagi Slamet Effendy Yusuf dari Golkar yang ingin merekrut Aisyah. Hal ini menunjukkan bahwa Kiai Hamid dianggap sebagai pihak yang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan istrinya.

Meski di kemudian hari, sebagai seorang suami, ia sempat khawatir dengan keselamatan Aisyah saat Partai Golkar menjadi sasaran kemarahan massa pasca-Reformasi 1998, namun pada akhirnya ia selalu menghormati pendirian kuat istrinya dan memberikan dukungan penuh, 100%.

Dengan caranya yang khas—mulai dari dukungan material, ujian hafalan saat silaturahmi, hingga gelengan kepala yang penuh makna—KH. Hamid Baidlowi telah mengukuhkan diri bukan hanya sebagai pendiri organisasi, tetapi sebagai bapak spiritual yang mencintai, menjaga, dan mendidik dengan disiplin lembut terhadap kemurnian Kitab Suci Al-Qur'an. Setiap gelengan kepalanya adalah cermin dari tanggung jawab besar yang diembannya untuk melahirkan generasi huffaz yang tidak hanya hafal di luar kepala, tetapi juga tepat di setiap huruf dan maknanya. Ia adalah penjaga ghaib bagi hafalan Al-Qur'an generasi muda, sekaligus penopang setia di balik kesuksesan seorang Aisyah Hamid Baidlowi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items